20 Agustus 2009

MENGHARGAI SEJARAH SENDIRI


HANDARBENI 17 AGUSTUS

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tiap kali di adain upacara dalam rangka memperingati merdekanya negara kita tanggal 17 Agustus. Pegawai Puskesmas Ngadirojo pasti menetapkan diri sebagai tim kesehatan. Sayang, kemarin mobil puslingnya lupa kefoto…. Padahal baru lho……. Kapan-kapan kita susulin dech.


Asyiknya kalo lagi ikut tim kesehatan, yang lain pada baris berbaris kepanasan, eh…. Kitanya asyik aja jaga pos kesehatan. Bisa ditinggal sarapan lagi, kalo upacara pagi begini pada kagak sarapan. Takut keduluan ama anak-anak peserta upacara.
Biasanya yang jadi peserta upacara di tingkat kecamatan kan anak-anak sekolah, dari SD sampe SLTP (di Ngadirojo nggak ada SLTA-nya…. Kacian yach). Lha, anak-anak ini sukanya pada heboh. Upacara mulai jam 09.00. jam setengah delapan dah pada baris. Padahal lapangannya kagak ada AC-nya…….. angin cemibrit ada…….. Alhasil begitu upacara dimulai beneran, langsung dah…… pada bertumbangan …(emang pohon). Alhamdulillah, event kemarin nggak ada kasus serius. Paling cuman kepanasan aja….. dari lapangan pada digandeng bu guru & pak guru, dengan muka pucat dan badan lemes, begitu dipos kesehatan langsung pada sehat (aneh ya…..). Yang tahun kemarin ada yang sampe dirujuk ke rumah sakit segala gara-gara nggak bisa napas, ternyata ada riwayat asma.


Yang berkesan waktu acara yang di rumah. Panitianya lagi kreatif abis. Seluruh warga berkumpul, lesehan, ada sponsor seragamnya. Jadi yang datang pada pake kaos merah semua. Tapi bukan karena bupatinya dari PDIP lho ya..... Kebetulan aja produk sponsornya identik dengan warna merah. Ada sponsor jamu, soalnya kerja di pabrik jamu. Tiap orang kebagian jamu instan. Yang suka coklat nyeponsori doorprise coklat. Yang suka koes plus-an, nyumbang lagu, tapi abis nyanyi minta doorprize... he... he.... (tetep.... ada pamrih). Acaranya juga lain dari biasanya. Obor dinyalain di sepanjang tempat acara. Pake acara nyalain lilin, lampu dimatiin, katanya biar khidmat (kirain belum bayar PLN!!). Ada orasi segala dari sesepuh. Pembacaan proklamasi, UUD 45 & Pancasila, petugasnya pake penjemputan obor...... nggak berani berangkat sendiri kali... Abis itu penayangan sejarah perumahan solo baru sektor 7 tahap II yakni Grogol Indah tercinta. Dari rumah-rumah jadul sampe manusia-manusia jadulnya. Ada yang dah meninggal, ada yang sekarang entah di mana. Ada yang sukes berat tapi nun jauh di mana. Ada yang narsis abis........ sejak tahun 96 ampe sekarang, tiap kali ada acara pertemuan selalu nongol di foto. Katanya terobsesi jadi ketua RT. Tapi nggak sia-sia sich, soalnya sekarang jadi ketua RT beneran. (ya pak Gatot ya...). Dari semua sejarah RT 3 RW 12 yang diceritain tadi, tersebutlah sebuah rumah yang ditetapkan sebagai rumah bersejarah layaknya rengas dengklok. Dan ternyat rumah itu adalah rumahku. Kaget dong..... bingung tho....... (mbah Surip). Tanpa aku tahu, ternyata saat-saat komunitas pertama membangun kepengurusan dan mengembangkan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, di rumahkulah tempat semuanya berawal. Jadi tempat kumpul-kumpul warga pelopor di situ. Waktu itu yang nempatin mas aku yang lagi kuliah. Sementara aku baru 4 tahunan ini tinggal di situ. Bapak yang beli tapi nggak ditempati, rumah di desa lebih luas katanya. Kalo tipe 21 mah rumah sangat sederhana sampe-sampe selonjor saja sulit sekali.......... Jadi bangga dech....... campur haru.......bisa menjadi bagian dari sejarah, walo cuman sejarah bagi komunitas yang keciiil. Beginilah keluarga besar RT3 RW 12 Grogol Indah Solo Baru memaknai kemerdekaan. Tidak muluk-muluk memandang yang besar Indonesia Raya, tapi belajar mencintai dan menghargai sejarah terdekat di hidup kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar